DMNETWORK – Ada kalanya sebuah kalimat politik baru terasa masuk akal justru ketika kita sedang berdiri di pasar tradisional. Bukan di televisi, bukan di ruang seminar ekonomi, apalagi di media sosial yang setiap hari seperti kentongan kebakaran.
Minggu pagi itu saya pergi ke pasar sekadar membeli kebutuhan dapur: bawang, cabai, tempe, dan ikan teri. Tetapi dari perjalanan kecil itulah saya merasa seperti sedang membaca laporan ekonomi versi rakyat jelata.
Warung pertama yang saya datangi menjual ikan laut kering. Saya membeli ikan teri Medan. Ketika penjual menyebut harga, saya sempat berhenti menghitung dalam kepala.
“Satu ons sepuluh ribu.”
Saya kaget. Harga itu, setahu saya, hampir sama dengan empat atau lima tahun lalu.
Padahal dolar sedang tinggi. Media sosial penuh kabar harga melambung. Tetapi ikan teri di pasar desa rupanya tidak ikut rapat dengan kurs mata uang asing.
Ikan teri memang lauk yang sederhana sekaligus setia. Malam hari lapar, tinggal campur telur dan sedikit teri, nasi hangat pun terasa cukup untuk satu keluarga kecil. Sudah asin, sudah gurih, dan tidak memerlukan teori ekonomi.
Dari situ saya pindah ke warung bumbon. Membeli bawang merah dan bawang putih. Kali ini saya menemukan ironi kecil dapur rakyat: bawang merah lebih mahal daripada bawang putih. Seperempat kilo bawang merah empat belas ribu, bawang putih sembilan ribu.
Namun bagi orang desa, dua macam bawang itu bukan sekadar bumbu. Itu fondasi peradaban nasi goreng. Dengan satu telur dan sedikit garam, urusan sarapan atau makan malam bisa selesai tanpa kegaduhan.
Lalu saya membeli tempe.
Dan di sinilah saya makin heran.
Tempe khas Magelang, ukurannya panjang dan padat, hanya delapan ribu rupiah. Saya sampai bertanya ulang kepada penjual karena merasa salah dengar.
“Masih delapan ribu?”
“Iya.”
Jawaban pendek yang terasa lebih menenangkan daripada pidato bank sentral.
Dalam bayangan saya, ukuran seperti itu mestinya sudah lima belas ribu.
Tetapi pasar desa rupanya mempunyai logika sendiri. Ia tidak terlalu peduli pada dolar. Ia lebih dekat pada panen kedelai, cuaca, dan kebiasaan dapur rakyat.
Cabai rawit dan cabai keriting pun membuat saya tercengang. Tiga ribu rupiah masih mendapat hampir satu ons.
Saya mulai merasa jangan-jangan yang ribut memang media sosialnya, bukan warungnya.
Dan di situlah saya tiba-tiba teringat ucapan Presiden Prabowo Subianto: “Orang desa nggak pakai dollar belanjanya.”
Kalimat itu sempat ditertawakan sebagian orang. Tetapi di pasar tradisional, kalimat itu menemukan konteksnya sendiri. Orang desa hidup dari ritme yang berbeda.
Mereka menanam sebagian kebutuhan sendiri, saling berbagi hasil kebun, dan mengukur kesejahteraan bukan dari kurs rupiah terhadap dolar, melainkan dari apakah dapur masih bisa mengepul.
Tentu bukan berarti ekonomi sedang baik-baik saja tanpa masalah. Tetapi desa mempunyai daya tahan yang sering tidak masuk hitungan statistik.
Ada kesederhanaan yang justru membuat hidup tetap berjalan.
Dan pagi itu, di tengah aroma bawang, teri, dan tempe hangat pasar tradisional, saya merasa menjadi lebih cinta kepada Indonesia. Bukan Indonesia yang gemar berteriak, melainkan Indonesia yang diam-diam tetap kuat.(RIST)