Cerpen Aris Munandar
DMNETWORK — Belum genap sehari di rumah, Raja sudah merencanakan untuk jalan-jalan lagi. Kemarin mungkin jalan-jalan di atas awan. Besok bisa jadi jalan-jalan di dasar lautan. Dan hari ini jadwal Raja jalan-jalan di kedalaman bumi.
“Tidak capek, Paduka?” tanya Menteri Utama. Raja menggeleng.
“Tidak takut tersesat?” Raja menggeleng lagi.
“Kalau begitu, apa yang Paduka cari?” Raja diam.
Diamnya Raja membuat para menteri sibuk membuat jawaban sendiri.
“Mungkin mencari emas.”
“Mungkin mencari minyak.”
“Mungkin mencari naga.”
“Mungkin mencari suara rakyat.”
Yang terakhir itu langsung ditertawakan. Mana ada suara rakyat sampai ke kedalaman bumi?
Pagi itu rombongan berangkat. Ada menteri, prajurit, pedagang besar, juru tulis kerajaan, tabib, tukang masak, dan beberapa rakyat yang ikut karena mengira akan ada pembagian sembako.
Mereka masuk ke sebuah lubang besar di kaki gunung. Semakin dalam. Semakin gelap. Semakin dingin. Prajurit mulai menggigil. Pedagang besar mulai menghitung kerugian.
Menteri mulai menyusun pidato kalau-kalau nanti ditemukan sesuatu yang bisa diresmikan. Rakyat mulai bertanya kapan makan siang. Tetapi Raja terus berjalan. Seolah-olah ada yang memanggil.
Di kedalaman bumi mereka menemukan sebuah kota. Kota itu tidak tercatat dalam peta kerajaan. Rumah-rumahnya sederhana. Penduduknya ramah. Tidak ada istana. Tidak ada pagar. Tidak ada pengawal. Tidak ada baliho. Tidak ada foto Raja.
“Siapa pemimpin kalian?” tanya Menteri Utama.
Penduduk kota saling memandang. “Lho, kami tidak tahu.”
Menteri kaget. “Bagaimana mungkin tidak tahu?”
“Kami bergantian.”
“Kalau ada masalah?”
“Kami bicara.”
“Kalau ada yang marah?”
“Kami dengarkan.”
“Kalau ada yang korupsi?”
Penduduk itu mengernyit. “Apa itu?”
Menteri langsung batuk-batuk.
Pedagang besar mendekat.
“Berapa harga beras di sini?”
“Tidak ada.”
“Maksudnya?”
“Kami menanam bersama.”
Pedagang besar langsung duduk. Seperti kehilangan arah hidup. Raja hanya memperhatikan. Diam. Lama sekali. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan.
Mereka turun lagi. Lebih dalam. Lebih dalam lagi. Sampai suara langkah mereka terdengar seperti suara orang lain.
Di sana mereka menemukan lorong-lorong panjang yang dipenuhi batu-batu bercahaya.
Setiap batu memantulkan bayangan berbeda. Seorang prajurit melihat dirinya menjadi jenderal. Pedagang besar melihat dirinya menjadi penguasa tujuh pasar. Menteri melihat dirinya menjadi Raja.
Sedangkan Raja melihat sawah.
Hanya sawah. Sawah yang luas.
Sawah yang retak karena kekeringan. Sawah yang tenggelam karena banjir. Sawah yang hijau. Sawah yang kosong.
Raja berdiri lama di depan batu itu. Sangat lama. Sampai semua orang gelisah.
“Paduka melihat apa?” tanya seorang rakyat. Raja tidak menjawab. Perjalanan berlanjut.
Ketika mereka sampai di titik terdalam, ternyata tidak ada emas. Tidak ada minyak. Tidak ada naga. Yang ada hanya sebuah ruang kosong.
Kosong sekali. Di tengah ruang itu tumbuh sebatang pohon kecil. Anehnya, akar pohon itu menjulur ke segala arah. Menembus batu. Menembus tanah. Menembus gunung. Menembus sungai. Menembus desa-desa. Menembus seluruh kerajaan.
Juru tulis kerajaan terkagum-kagum. “Ini pohon apa?”
Seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari kegelapan menjawab: “Ini pohon silaturahmi.” Semua terdiam.
“Kalau akar-akarnya putus, kerajaan akan runtuh. Bukan karena perang. Bukan karena bencana. Tetapi karena orang-orang tidak lagi saling mendengar.”
Menteri buru-buru mencatat.
Pedagang besar buru-buru menghitung kemungkinan bisnis pohon silaturahmi. Prajurit buru-buru menjaga pohon itu.
Sedangkan Raja duduk di bawahnya. Lama. Sangat lama.
Ketika rombongan pulang ke istana, semua orang membawa cerita berbeda. Prajurit bercerita tentang keberanian.
Menteri bercerita tentang visi pembangunan.
Pedagang besar bercerita tentang peluang investasi.
Rakyat bercerita tentang kota aneh tanpa korupsi.
Tetapi Raja tidak bercerita apa-apa.
Malam itu lampu ruang kerjanya menyala sampai fajar. Ia membuka peta. Membuka laporan. Membuka catatan panen. Membuka daftar harga.
Membuka data kemiskinan. Membuka surat-surat dari desa yang selama ini menumpuk.
Orang-orang mengira Raja gemar jalan-jalan. Padahal setiap perjalanan itu hanyalah cara untuk mendengar suara yang tidak sampai ke istana.
Awan mengajarinya tentang harapan. Lautan mengajarinya tentang kesabaran. Kedalaman bumi mengajarinya tentang akar.
Dan malam itu, sendirian di ruang kerjanya, Raja sedang berpikir keras. Bukan bagaimana memperbesar istana.
Bukan bagaimana memperpanjang kekuasaan.
Melainkan bagaimana agar rakyatnya bisa hidup lebih baik daripada hari ini.
Karena ternyata perjalanan terjauh seorang Raja bukanlah ke langit, bukan pula ke dasar bumi.
Melainkan perjalanan mencari jalan menuju kesejahteraan rakyatnya sendiri.
Aris Munandar, petani yang gemar menulis tinggal di Magelang