DMNETWORK – Sejak pejabat itu kariernya terus menanjak, halaman rumahnya berubah menjadi panggung. Orang-orang datang membawa senyum yang dipoles seperti sepatu baru. Mereka tidak lagi membawa gagasan. Mereka membawa pujian. Pujian yang dilipat rapi, disetrika, lalu diselipkan ke saku baju dinas.
Yang satu memuji cara berjalan.
Yang lain memuji batuknya.
Ada yang mengatakan angin bertiup lebih sopan sejak pejabat itu menjabat.
Ada pula yang bersumpah matahari terbit setiap pagi karena mendapat izin darinya.
Semula orang menganggap itu lelucon. Lama-kelamaan, lelucon itu menjadi syarat administrasi.
Pejabat itu hanya tersenyum. Senyum yang tidak bisa dibedakan apakah sedang menikmati atau sedang bosan. Ketika anak buahnya saling sikut, saling menjegal, saling menyebarkan kabar yang bahkan belum sempat lahir, ia hanya berkata pelan,
“Biarkan saja. Alam sedang bekerja.”
Kalimat itu langsung dicetak besar-besar di kepala para penjilat.
Mereka menghafalnya. Mengutipnya. Menafsirkannya. Bahkan mengaku mendapat wahyu saat mendengarnya.
Suatu sore, sang juara penjilat datang membawa bisikan.
Tidak ada yang tahu isi bisikan itu. Tidak ada yang mendengar.
Tetapi setelah bisikan itu selesai, dunia seperti mengedip.
Hanya sekali.
Ketika mata semua orang terbuka kembali, kursi-kursi sudah ditempati wajah baru.
Ruang rapat masih sama. Lukisan masih sama. Jam dinding masih berdetak.
Tetapi orang-orang lama lenyap.
Seolah tidak pernah ada. Yang datang menggantikan jauh lebih hebat. Mereka tidak lagi menjilat sepatu. Mereka menjilat bayangan sepatu.
Bahkan sebelum pejabat itu berbicara, mereka sudah bertepuk tangan. Sebelum pejabat itu berpikir, mereka sudah mengatakan pikirannya cemerlang.
Sebelum keputusan dibuat, mereka sudah memuji kebijaksanaannya.
Ruangan menjadi begitu bersih.
Tidak ada perbedaan pendapat.
Tidak ada pertanyaan.Tidak ada keberanian. Hanya gema.
Pejabat itu mulai merasa menjadi manusia paling benar di dunia. Lalu keajaiban berikutnya terjadi. Lidah para penjilat perlahan memanjang. Mula-mula hanya beberapa senti. Kemudian menyentuh lantai. Lalu menjulur melewati pintu.
Menyusuri halaman. Masuk ke selokan. Naik ke pagar. Melingkari pohon-pohon. Anehnya, mereka tetap tersenyum. Mereka bangga.
Semakin panjang lidah, semakin tinggi jabatan. Semakin lentur lidah, semakin dekat dengan kekuasaan.
Tak seorang pun merasa sedang berubah menjadi sesuatu yang aneh. Justru mereka menganggap itulah bentuk manusia paling sempurna.
Hanya seorang petugas kebersihan yang setiap pagi mengepel bekas air liur di lantai kantor. Ia menyaksikan semuanya tanpa pernah diminta pendapat.
Suatu hari ia berkata lirih kepada sapunya,
“Kalau semua orang sibuk menjilat ke atas, siapa yang menjaga tanah agar tetap dipijak?” Sapunya diam. Tetapi debu berterbangan. Debu itu masuk ke ruang pejabat. Masuk ke hidung. Masuk ke mata.
Untuk pertama kalinya, pejabat itu bersin. Tak ada satu pun penjilat yang berani ikut bersin.
Mereka menunggu.
Kalau bersin itu dianggap kebijakan, mereka siap bersin berjamaah.
Kalau dianggap kesalahan, mereka akan menyalahkan debu. Dan di luar gedung, angin terus bertiup seperti biasa.
Ia tidak mengenal jabatan. Ia hanya tahu satu pekerjaan.
Membersihkan daun-daun yang terlalu lama merasa menjadi pohon.
Aris Munandar, spiritual petani tinggal di Magelang