Membangkitkan Bioteknologi Pangan Tradisional: Dari Sawah Menuju Kedaulatan Pangan

4 Min Read
Ketua DPW TMI Jawa Tengah, sebelah kanan Don Muzakir ketua DPN TMI nasional ketika berada di Banokeling Banyumas (foto: rist)

Pengalaman mendampingi petani membuat saya percaya bahwa tantangan terbesar pertanian Indonesia hari ini bukan semata meningkatkan produksi

Oleh: Wawan Pramono 
Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Jawa Tengah 


DMNETWORK
– Di berbagai forum pertanian, kita sering mendengar istilah smart farming, pertanian digital, kecerdasan buatan, hingga rekayasa genetika. Semua terdengar menjanjikan, seolah masa depan pertanian hanya dapat diraih melalui teknologi yang semakin canggih.

Namun, sebagai aktivis Tani Merdeka Indonesia yang kerap berdialog dengan petani di desa-desa, saya justru menemukan kenyataan yang berbeda. Harapan pertanian Indonesia tidak selalu lahir dari mesin modern atau laboratorium berbiaya mahal. Ia tumbuh di tempat yang lebih sederhana: di tanah yang sehat, di lumbung pangan, di dapur para ibu, dan pada pengetahuan turun-temurun yang diwariskan tanpa banyak publikasi ilmiah.

Kesadaran itu semakin menguat ketika saya mengikuti kajian mengenai bioteknologi pangan tradisional. Saya menyadari bahwa bangsa ini sesungguhnya telah mengenal bioteknologi jauh sebelum istilah itu populer di kampus-kampus. Tempe, tape, oncom, bekasam, dadih, hingga keluak yang menjadi bumbu rawon merupakan bukti bahwa nenek moyang kita telah memahami cara memanfaatkan mikroorganisme untuk menghasilkan pangan yang lebih aman, lebih bergizi, dan lebih bernilai. Pengetahuan itu lahir dari pengalaman panjang membaca alam, bukan dari kecanggihan peralatan.

Ironisnya, ketika dunia mulai berlomba meneliti pangan fermentasi karena manfaatnya bagi kesehatan dan keseimbangan mikrobiota usus, kita justru semakin menjauh dari warisan tersebut. Generasi muda lebih akrab dengan makanan cepat saji dibanding memahami bagaimana proses fermentasi bekerja. Kita bangga mengimpor teknologi, tetapi sering lupa menghargai teknologi yang telah hidup ratusan tahun di desa-desa kita.

- Iklan -
Ad imageAd image

Padahal, fermentasi bukan sekadar teknik mengolah makanan. Ia adalah filosofi kehidupan. Mikroorganisme mengajarkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari sesuatu yang tidak terlihat. Mereka mengubah kedelai menjadi tempe, singkong menjadi tape, limbah organik menjadi pupuk, dan tanah yang lelah kembali subur. Dari proses yang nyaris tak terdengar itu lahir kehidupan baru.

Pengalaman mendampingi petani membuat saya percaya bahwa tantangan terbesar pertanian Indonesia hari ini bukan semata meningkatkan produksi. Tantangan yang lebih mendasar adalah mengembalikan kesadaran bahwa pertanian merupakan ekosistem kehidupan. Tanah bukan sekadar media tanam, melainkan rumah bagi miliaran mikroorganisme yang menentukan kesuburan. Ketika tanah dipenuhi bahan kimia tanpa memberi ruang bagi kehidupan biologisnya, sesungguhnya kita sedang menggerus fondasi pertanian itu sendiri.

Karena itu, membangkitkan bioteknologi pangan tradisional bukanlah langkah mundur. 

melangkah maju dengan berpijak pada kekuatan sendiri.

 Indonesia memiliki keragaman hayati, budaya pangan, dan pengetahuan lokal yang luar biasa. Yang kita perlukan adalah menjembatani kearifan tersebut dengan riset modern, pendidikan, dan keberpihakan kebijakan agar petani tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga pelaku utama inovasi pangan.

Sebagai bagian dari Tani Merdeka Indonesia, saya memandang kedaulatan pangan tidak cukup diukur dari melimpahnya hasil panen. Kedaulatan pangan berarti petani mampu menguasai benih, memulihkan kesuburan tanah, mengembangkan teknologi berbasis sumber daya lokal, dan menghasilkan pangan yang sehat bagi masyarakat. Di titik itulah bioteknologi pangan tradisional menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan salah satu jalan menuju masa depan pertanian Indonesia yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan bermartabat.***

- Iklan -
Ad image
Share This Article