dzikir pun memerlukan nggayemi. Kalimat Subhanallah, misalnya, tidak cukup hanya dilafalkan. Ia perlu direnungkan hingga maknanya mengendap dalam kesadaran.
dzikir pun memerlukan nggayemi. Kalimat Subhanallah, misalnya, tidak cukup hanya dilafalkan. Ia perlu direnungkan hingga maknanya mengendap dalam kesadaran.
DMNETWORK – Ada satu filsafat yang barangkali tidak pernah diajarkan di ruang kuliah, tidak pula menjadi mata pelajaran di sekolah. Padahal, guru-gurunya setiap hari berkeliaran di padang rumput. Mereka tidak mengenakan jas, tidak membawa buku, dan tidak pandai berpidato. Mereka adalah kerbau, sapi, dan kambing.
Orang Jawa menyebut kebiasaan mereka dengan istilah nggayemi, yakni mengunyah kembali makanan yang telah ditelan. Rumput yang semula masuk begitu saja ke dalam perut, dikeluarkan lagi untuk dikunyah perlahan hingga lumat. Setelah itu, barulah ia kembali ditelan agar sari-sarinya benar-benar terserap.
Kelihatannya sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itulah tersembunyi pelajaran yang sering dilupakan manusia modern. Kita gemar menelan informasi, tetapi jarang mengunyahnya kembali. Kita pandai menghafal, tetapi enggan merenung. Kita fasih mengucapkan kalimat-kalimat mulia, tetapi sering berhenti di bibir.
Padahal, dzikir pun memerlukan nggayemi.
Kalimat Subhanallah, misalnya, tidak cukup hanya dilafalkan.
Ia perlu direnungkan hingga maknanya mengendap dalam kesadaran. Allah Mahasuci. Maka, manusia yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya semestinya menempuh jalan kesucian pula. Kesucian itu bukan sekadar pakaian yang bersih atau tempat ibadah yang harum, melainkan juga makanan yang halal, penghasilan yang jujur, ucapan yang santun, perilaku yang bermoral, dan pikiran yang bersih dari prasangka.
Begitu pula Alhamdulillah. Kalimat itu bukan sekadar penutup pidato atau jawaban spontan ketika menerima nikmat. Di dalamnya tersimpan dorongan untuk menjadi manusia yang terpuji. Semangat belajar, semangat berlatih, semangat menulis, semangat mengamati dengan saksama, hingga semangat berpikir logis, sistematis, objektif, dan realistis, semuanya merupakan buah dari rasa syukur yang dipahami, bukan sekadar diucapkan.
Sayangnya, manusia sering merasa cukup setelah mengucapkan. Seakan-akan kata telah selesai menjalankan tugasnya, padahal makna belum sempat bekerja.
Di sisi lain, ada pula persoalan yang sering luput disadari, yaitu perbedaan pola berpikir manusia. Tidak semua orang berpikir dengan cara yang sama.
Paling tidak, ada tiga corak berpikir.
Pertama, pola berpikir filsafati, yang bertanya mengapa sesuatu harus dilakukan dan nilai apa yang hendak diwujudkan.
Kedua, pola berpikir konseptual, yang menyusun rancangan, metode, serta langkah-langkah agar tujuan dapat dicapai.
Ketiga, pola berpikir praktis, yang mengubah gagasan menjadi tindakan nyata.
Ketiganya bukan untuk dipertentangkan. Justru sebuah program hanya akan berhasil apabila ketiga corak berpikir itu saling melengkapi.
Filsafat memberi arah, konsep menyediakan peta, sedangkan praktisi berjalan di jalan yang telah dirancang.
Sejarah pendidikan pernah memberi contoh. Pada 1976 diperkenalkan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional). Salah satu cita-citanya ialah membangun budaya menulis di kalangan guru. Gagasannya baik, metodenya disusun, bahkan kemudian lahir penelitian tindakan kelas sebagai wahana guru merekam pengalaman mengajar.
Namun, hingga kini budaya menulis itu belum benar-benar menjadi tradisi.
Barangkali yang kurang bukan konsepnya. Yang kurang adalah jiwa filsafat dan ketekunan praktiknya.
Menulis belum dipandang sebagai ikhtiar peradaban.
Padahal, tulisan memungkinkan pengalaman hidup melampaui usia penulisnya. Ia menjadi ilmu yang terus diwariskan dan, dalam keyakinan keagamaan, dapat menjadi amal yang pahalanya terus mengalir.
Ironisnya, kita lebih sering menekankan pahala dari ucapan dan doa, tetapi kurang memberi perhatian pada pahala dari ilmu yang dituliskan. Akibatnya, banyak pengalaman berharga ikut terkubur bersama pemiliknya.
Mungkin karena kita terlalu cepat menelan, tetapi terlalu malas nggayemi.
Padahal, kebijaksanaan kadang tidak lahir dari banyaknya diskusi yang panjang, melainkan dari seekor kerbau yang sabar mengunyah rumput hingga menjadi tenaga.
Ngubaedi Ahmad, seorang mantan dosen yang suka menulis