Gus Kikin, Dari Halaman Tebuireng ke Rumah Besar NU

7 Min Read
Pada akhirnya PBNU dipegang Gus Kikin (foto: istimewa/DMNetwork)

Ada masa ketika kehidupan Gus Kikin lebih dekat dengan dunia profesional daripada mimbar pengajian

JOMBANG, DMNetwork — Malam belum benar-benar selesai ketika sembilan kiai mengambil keputusan penting bagi Nahdlatul Ulama. Di ruang musyawarah itu, nama-nama yang sejak beberapa hari sebelumnya beredar di arena Muktamar ke-35 perlahan mengerucut. Riuh perebutan dukungan berganti menjadi suasana yang lebih hening: musyawarah.

Di luar ruangan, ribuan muktamirin telah mengetahui satu hal. Jalan menuju kursi Ketua Umum PBNU tidak lagi ditentukan semata oleh jumlah suara dalam penjaringan.

Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA telah mengambil alih peran menentukan.

Nama KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang lebih akrab dipanggil Gus Kikin, akhirnya keluar dari ruang itu sebagai pilihan untuk memimpin PBNU periode 2026-2031.

- Iklan -
Ad imageAd image

Keputusan tersebut seolah menjadi penutup dari perjalanan panjang seorang anak Jombang yang tumbuh di antara tradisi pesantren dan perubahan zaman.

Tetapi bagi Gus Kikin, jalan menuju kursi Ketua Umum PBNU sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum Muktamar ke-35 digelar.

Jalannya bermula dari Tebuireng.

Tebuireng sebagai rumah sejarah

Ada tempat-tempat yang lebih besar daripada bangunan yang berdiri di atas tanahnya. Tebuireng adalah salah satunya.

Pesantren di Jombang itu bukan hanya tempat orang belajar kitab dan menjalani kehidupan sebagai santri. Dari sana, sejarah panjang Nahdlatul Ulama dan kehidupan kebangsaan Indonesia ikut berdenyut.

- Iklan -
Ad image

KH Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren tersebut pada awal abad ke-20. Dari lingkungan itulah lahir tradisi keilmuan yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting NU.

Gus Kikin tumbuh sebagai bagian dari keluarga besar Tebuireng.

Ia lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Dari garis keluarga, ia memiliki hubungan dengan KH Hasyim Asy’ari. Namun, perjalanan hidupnya tidak sepenuhnya berjalan dalam pola yang lazim bagi seorang anak keluarga pesantren.

Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. Kemudian, ia memperoleh pendidikan Ilmu Komunikasi melalui Universitas Terbuka.

Ia juga mengenal dunia usaha.

Ada masa ketika kehidupan Gus Kikin lebih dekat dengan dunia profesional daripada mimbar pengajian. Namun, sebagaimana banyak keluarga pesantren yang memiliki hubungan kuat dengan tradisi asalnya, jalan hidup itu akhirnya kembali ke Tebuireng.

Kembalinya Gus Kikin bukan sekadar kepulangan seorang anggota keluarga.

Ia kemudian dipercaya meneruskan kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Di titik itu, Gus Kikin mulai memikul dua warisan sekaligus: warisan keluarga dan warisan pesantren.

Dari pesantren menuju organisasi

Menjadi pengasuh pesantren membuat Gus Kikin semakin dekat dengan dunia santri dan masyarakat. Tetapi ruang pengabdiannya kemudian melebar.

Ia masuk ke struktur Nahdlatul Ulama.

Dalam kepengurusan PBNU hasil Muktamar ke-34, Gus Kikin dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah. Jabatan tersebut mempertemukannya dengan persoalan organisasi dalam skala nasional.

NU bukan organisasi kecil yang hanya bekerja di ruang-ruang pesantren. Struktur organisasi ini membentang dari pusat hingga daerah, dengan pesantren, lembaga pendidikan, badan usaha, organisasi sosial, dan jaringan masyarakat sebagai bagian dari ekosistemnya.

Pengalaman di PBNU menjadi bekal ketika Gus Kikin kemudian dipercaya memimpin PWNU Jawa Timur.

Jawa Timur mempunyai tempat tersendiri dalam peta NU. Pesantren-pesantren besar tumbuh di berbagai penjuru wilayah itu. Para kiai memiliki pengaruh sosial yang kuat. Tradisi ke-NU-an hidup bukan hanya dalam struktur organisasi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Gus Kikin kemudian terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029.

Di sinilah pengalaman pesantren dan organisasi bertemu.

Ia bukan lagi hanya pengasuh Tebuireng. Ia telah menjadi bagian dari kepemimpinan NU pada tingkat nasional dan regional.

Ketika muktamar mengubah arah

Muktamar ke-35 kemudian membawa Gus Kikin ke panggung yang berbeda.

Dalam penjaringan calon Ketua Umum PBNU, ia memperoleh 472 suara. Perolehan itu menjadi yang tertinggi.

Namun, politik muktamar tidak berhenti pada angka.

Para muktamirin kemudian memilih mekanisme AHWA. Keputusan tersebut mengubah cara membaca pertarungan kepemimpinan PBNU.

Jika sebelumnya perhatian tertuju pada siapa memperoleh suara paling banyak, setelah AHWA dipilih, pertanyaan berubah menjadi siapa yang dapat diterima dalam musyawarah para ulama.

Gus Kikin akhirnya memperoleh keputusan tersebut.

Ada ironi kecil dalam perjalanan itu. Ia memperoleh suara penjaringan paling tinggi, tetapi tidak dilantik sebagai Ketua Umum karena kemenangan dalam pemungutan suara langsung. Ia menjadi Ketua Umum setelah proses musyawarah AHWA.

Dengan demikian, jalan Gus Kikin menuju pucuk PBNU bukanlah jalan lurus.

Ada Tebuireng di belakangnya. Ada pengalaman PBNU. Ada Jawa Timur. Ada 472 suara. Dan akhirnya ada sembilan kiai yang bermusyawarah.

Lima tahun yang sebenarnya baru dimulai

Kini Gus Kikin memasuki ruang yang jauh lebih besar daripada Tebuireng.

Sebagai Ketua Umum PBNU, ia akan berhadapan dengan persoalan yang tidak seluruhnya dapat diselesaikan dengan tradisi pesantren.

NU harus menjaga hubungan dengan negara tanpa kehilangan jarak kritis. Pesantren harus diperkuat agar tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga mampu menjawab perubahan pendidikan dan ekonomi. Warga nahdliyin membutuhkan penguatan ekonomi. Generasi muda NU menghadapi dunia yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Di sisi lain, NU selalu berada di antara dua tarikan: sebagai organisasi keagamaan dan sebagai kekuatan sosial-politik yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan nasional.

Di sinilah masa lalu Gus Kikin akan diuji.

Tebuireng memberinya akar.

Organisasi memberinya pengalaman.

Jawa Timur memberinya panggung kepemimpinan.

Muktamar ke-35 memberinya mandat.

Tetapi mandat itu bukan cek kosong.

Lima tahun ke depan akan menjadi periode ketika Gus Kikin harus membuktikan apakah pengalaman panjangnya mampu diterjemahkan menjadi kepemimpinan PBNU yang mampu merawat tradisi sekaligus membaca perubahan.

Pada akhirnya, perjalanan Gus Kikin dari Tebuireng ke PBNU bukan sekadar kisah seorang kiai yang memperoleh jabatan tertinggi dalam organisasi.

Ia adalah kisah tentang sebuah tradisi yang sedang mencari bentuknya di tengah zaman yang terus bergerak.

Dan setelah pintu ruang musyawarah AHWA ditutup malam itu, perjalanan sebenarnya baru dimulai. Redaksi

Share This Article
error: Content is protected !!