Catatan Redaksi Akhir Pekan DMNetwork.Com: Ketika Prabowo Mengubah Istana Menjadi Pusat Kendali Ekonomi Nasional

3 Min Read
Ketika revolusi datang dari Istana (Dok: DMNetwork)

Catatan Redaksi: Aris Munandar

DMNETWORK.COM, JAKARTA, – Ada perubahan besar dalam lanskap kepemimpinan nasional hari-hari ini. Presiden Prabowo Subianto tidak lagi semata tampil sebagai figur pertahanan atau politik keamanan. Ia sedang membangun citra baru: pemimpin ekonomi dengan watak komando.

Pidato-pidato terakhirnya di DPR dan berbagai forum resmi memperlihatkan arah itu dengan sangat jelas. Negara ingin kembali memegang kemudi lebih kuat atas sumber daya alam, devisa ekspor, dan arus keuangan nasional. Batu bara, sawit, hingga mineral strategis mulai diarahkan masuk dalam kendali sistem terpusat melalui skema baru yang terhubung dengan Danantara.

- Iklan -
Ad imageAd image

Di satu sisi, langkah ini dibaca sebagai upaya mengakhiri praktik lama yang dianggap merugikan negara, mulai dari under invoicing hingga kebocoran devisa puluhan tahun. Narasi “kekayaan negara harus kembali ke negara” menemukan momentumnya di tengah keresahan publik terhadap oligarki sumber daya alam.

Namun di sisi lain, pasar membaca arah berbeda. Rupiah yang sempat menyentuh titik terlemah terhadap dolar, kenaikan suku bunga Bank Indonesia, serta gejolak IHSG menunjukkan adanya kegelisahan investor terhadap meningkatnya intervensi negara.

Di titik inilah kepemimpinan Prabowo memasuki babak yang menarik sekaligus menentukan.

- Iklan -
Ad image

Ia tampak sedang menggabungkan dua arus besar sekaligus: nasionalisme ekonomi dan populisme kesejahteraan.

Program Makan Bergizi Gratis tetap dipertahankan sebagai wajah sosial pemerintahan. Sementara di belakang layar, negara mulai memperkeras genggaman terhadap ekspor dan aliran modal.

Kombinasi ini membuat pemerintahan Prabowo seperti lokomotif baja yang bergerak di rel kesejahteraan rakyat, tetapi menarik gerbong kontrol negara yang jauh lebih berat.

Media sosial pun terbelah.

Sebagian melihat Prabowo sebagai pemimpin yang akhirnya berani melawan tata niaga lama yang selama ini dianggap dikuasai segelintir elite. Sebagian lain khawatir Indonesia bergerak menuju ekonomi yang terlalu tersentralisasi. Kritik terhadap sejumlah pernyataan pemerintah bahkan sempat membanjiri beranda digital dalam beberapa hari terakhir.

Tetapi satu hal tampak jelas: Prabowo sedang membangun paradigma baru kepemimpinan.

Bukan lagi sekadar negara yang menjaga pasar, melainkan negara yang ingin ikut menentukan arah pasar.

Di tengah dunia yang sedang diguncang perang, proteksionisme, dan perebutan energi global, pendekatan seperti ini memang sedang tumbuh di banyak negara. Indonesia tampaknya tidak ingin lagi hanya menjadi ladang bahan mentah bagi ekonomi dunia.

Pertanyaannya kini bukan apakah langkah itu berani atau tidak.

Melainkan: seberapa kuat fondasi institusi Indonesia menopang konsentrasi kekuasaan ekonomi yang semakin besar di tangan negara.

Sebab sejarah menunjukkan, nasionalisme ekonomi dapat menjadi energi pembangunan yang dahsyat. Tetapi tanpa transparansi dan pengawasan kuat, ia juga bisa berubah menjadi lorong gelap yang dipenuhi kepentingan baru.

Dan di situlah ujian sesungguhnya bagi kepemimpinan Prabowo Subianto dimulai.***

Share This Article