DMNETWORK – Di pendopo Candi Borobudur yang biasanya lebih akrab dengan langkah pelan peziarah dan napas panjang sejarah, Sabtu (20/6/2026) itu ruang berubah seperti lembar yang dibentangkan kembali. Bukan sekadar tempat singgah, melainkan panggung kecil yang mencoba menautkan masa silam dengan bahasa hari ini.
Di sana, kelir sepanjang sekitar tiga meter terbentang. Tidak besar, bahkan cenderung sederhana jika dibandingkan megahnya lanskap Borobudur di luar sana. Namun justru dari kesederhanaan itu, sesuatu yang lain terasa bekerja: seperti ada upaya merendahkan suara agar pesan bisa terdengar lebih jernih.
Di balik kelir itu, tidak hanya bayangan yang bergerak. Ada juga gagasan yang sedang diuji. Wayang yang dimainkan bukan tokoh-tokoh purwa yang akrab dalam tradisi pakeliran Jawa, melainkan figur-figur fabel: kelinci, serigala, kera, berang-berang, hingga dewa Sakra dan raksasa. Mereka seperti datang dari hutan cerita yang berbeda, tetapi justru dipanggil pulang oleh relief yang sama.
Pementasan itu diberi nama “wayang relief”. Sebuah istilah yang terasa seperti jembatan: satu kakinya berpijak pada tradisi visual di dinding batu Borobudur, kaki lainnya melangkah ke ruang pertunjukan kontemporer yang lebih cair.
Dalang Wito Prasetyo dan Doni Hendra menghidupkan lakon “Sasa Jataka (Kelinci Bijak)”. Kisah yang bersumber dari dunia Jataka, dunia moral yang lama berdiam dalam relief-relief batu abad ke-8 itu, kini dipindahkan ke kelir kecil dengan bahasa Indonesia yang lugas, tanpa lapisan simbol yang terlalu berlapis.
Ada sesuatu yang menarik di sini: ketika bahasa tidak lagi menjadi pagar, melainkan pintu.
Wayang-wayang itu sendiri lahir dari material yang tidak tunggal. Kulit, talang atau karpet air, hingga kertas semen yang dipres. Bahan-bahan yang dalam keseharian barangkali tak pernah dibayangkan akan memiliki tubuh estetis, kini dipinjam untuk menghidupkan cerita lama. Seolah-olah masa lalu tidak menuntut kemewahan medium, hanya kesungguhan untuk kembali diucapkan.
Dalam narasi Wito, kisah kelinci bijak bukan sekadar fabel tentang kecerdikan binatang. Ia adalah jejak dari gagasan moral yang lebih tua: tentang kebenaran, ketulusan, dan kebajikan yang dalam tradisi Jataka dipersonifikasikan sebagai Bodhisattva. Di titik ini, cerita tidak lagi berhenti sebagai hiburan, tetapi bergerak menjadi etika yang dipentaskan.
Borobudur, yang selama ini lebih sering dibaca sebagai monumen, di sini diperlakukan sebagai teks yang bisa dibunyikan. Relief tidak hanya dilihat, tetapi “diceritakan ulang”. Bahkan, seperti ingin dikembalikan pada fungsi asalnya: bukan hanya untuk diam, tetapi untuk berbicara lintas zaman.
Wito menyebut, bentuk wayang ini dirancang menyerupai figur-figur di relief Borobudur, dengan iringan gamelan yang juga merujuk pada gambaran yang sama, meski disederhanakan. Ada semacam eksperimen estetika di sini: bagaimana sebuah peradaban lama diterjemahkan tanpa kehilangan napasnya, tetapi juga tidak membeku dalam bentuk arkeologis.
Dalam bahasa yang lebih halus, ini adalah usaha untuk membuat Borobudur kembali “hidup”, bukan sebagai benda, tetapi sebagai sumber cerita.
Di sisi lain, Wiwit Kasiyati membaca pertunjukan ini sebagai pemantik. Dari Museum dan Cagar Budaya Unit Warisan Dunia Borobudur, muncul harapan agar lebih banyak cerita digali dari relief: bukan hanya wayang, tetapi juga kuliner, pengobatan, hingga pengetahuan keseharian yang terukir di batu.
Ada semacam kesadaran baru yang pelan-pelan tumbuh: bahwa warisan budaya tidak harus selalu diperlakukan sebagai benda yang dijaga dari jarak aman. Ia bisa juga dibuka, ditafsir ulang, bahkan dipentaskan kembali, selama masih setia pada nilai yang dikandungnya.
Di antara kelir kecil dan relief batu yang besar itu, ada ruang pertemuan yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan istilah teknis. Ia lebih mirip percakapan diam antara masa lalu dan masa kini, antara batu dan suara, antara simbol dan bahasa yang terus berubah.
Dan mungkin di situlah “wayang relief” menemukan tempatnya: bukan sebagai bentuk baru yang menggantikan yang lama, tetapi sebagai cara lain untuk mendengarkan kembali apa yang sudah lama ada. (Gris)