“Sudaryono dan Jejak Samin: Diam yang Tidak Tunduk”

4 Min Read

DMNETWORK – Ada yang menarik dari seorang Sudaryono ketika berdiri di hadapan massa yang marah.

Bukan karena ia seorang Wakil Menteri. Jabatan sering kali hanya pakaian yang dipinjamkan sejarah kepada seseorang. Hari ini dikenakan, besok bisa dilepas. Yang menarik justru sesuatu yang lebih tua dari jabatan, lebih panjang usianya daripada kekuasaan: asal-usul.

Di Gedung Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, ketika suasana diskusi berubah menjadi ketegangan, ketika suara-suara meninggi dan ruang dialog mulai kehilangan iramanya, Sudaryono tidak memilih pergi. Ia tetap berada di tempatnya. Mendengar. Menjawab. Bertahan.

Mungkin itu bukan soal keberanian seorang pejabat. Mungkin itu soal ingatan yang datang dari tanah kelahirannya.

- Iklan -
Ad imageAd image

Grobogan.

Kabupaten yang bentang alamnya keras. Saat kemarau, tanahnya merekah seperti peta retakan yang digambar matahari. Di beberapa wilayah, air menjadi barang yang lebih berharga daripada pidato. Orang-orang tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup tidak selalu ramah. Bahwa kesulitan bukan peristiwa luar biasa, melainkan bagian dari keseharian.

Dari wilayah itu pula lahir satu komunitas yang sejak lama memilih berjalan di luar hiruk-pikuk kekuasaan: orang-orang Samin.

Mereka bukan pemberontak dalam pengertian umum. Mereka juga bukan kaum revolusioner yang mengangkat senjata. Ajaran Samin Surosentiko justru dibangun di atas kesederhanaan yang hampir radikal. Tidak mencuri. Tidak berbohong. Tidak iri. Tidak membalas kebencian dengan kebencian.

Ketika kolonialisme datang membawa pajak dan tekanan, orang-orang Samin melawan dengan cara yang ganjil. Mereka tidak menyerang. Mereka tidak membakar. Mereka memilih tetap menjadi diri sendiri.

- Iklan -
Ad image

Diam, tetapi tidak tunduk.

Sikap itu sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal justru di situlah kekuatannya. Sebab tidak semua perlawanan membutuhkan teriakan. Ada perlawanan yang bekerja seperti akar pohon jati: tidak terlihat, tetapi menahan seluruh batang agar tetap berdiri.

Mungkin karena itu, bagi sebagian orang yang mengenal latar belakangnya, Sudaryono tampak seperti membawa sebagian watak tersebut.

Ia bisa keras dalam argumentasi, tetapi tidak mudah meninggalkan gelanggang.

Ia bisa berbeda pendapat, tetapi tidak selalu memilih jalan konfrontasi.

Ia hadir sebagai petarung, tetapi bukan petarung yang mencari musuh.

Di tengah budaya politik yang sering memuja pencitraan, keberanian justru menjadi barang langka. Banyak orang berani berbicara ketika ruangan aman. Banyak orang gagah ketika lawan tidak ada. Tetapi keberanian sesungguhnya selalu diuji ketika seseorang berdiri di tengah kerumunan yang tidak menyukainya.

Di situlah nilai sebuah perjumpaan.

Universitas adalah rumah bagi kritik. Kekuasaan harus siap dikritik. Itu prinsip yang sehat. Namun kritik juga menemukan kemuliaannya ketika ia bersedia mendengar jawaban. Dialog kehilangan maknanya jika salah satu pihak hanya ingin berbicara dan pihak lain hanya ingin menang.

Maka peristiwa di GIK UGM mungkin bukan sekadar cerita tentang seorang pejabat dan sekelompok mahasiswa.

Ia adalah cerita lama yang terus berulang dalam sejarah bangsa ini: perjumpaan antara kekuasaan, kritik, keberanian, dan kesediaan untuk tetap berdiri ketika suasana tidak lagi nyaman.

Dan di sudut cerita itu ada seorang lelaki dari Grobogan.

Dari tanah retak yang mengajarkan ketabahan.

Dari tradisi Samin yang mengajarkan keteguhan.

Dari kampung yang sejak lama memahami bahwa tidak semua kemenangan harus dirayakan dengan sorak-sorai.

Kadang-kadang cukup dengan tetap berdiri.

Aris Munandar, petani tinggal di Magelang 

Share This Article