Esai tentang Rumah Sastra Ahmad Tohari, Bonokeling, dan Dua Tradisi Literasi Nusantara
Oleh Aris Munandar
DMNETWORK – Tidak semua peradaban menyimpan pengetahuannya di atas kertas.
Di Pekuncen, beberapa kilometer dari Rumah Sastra Ahmad Tohari, hidup sebuah komunitas adat yang membuktikan bahwa ingatan manusia dapat bertahan tanpa perpustakaan. Yang menjadi tempat penyimpanannya bukan lemari arsip, melainkan hati, laku hidup, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Komunitas Adat Bonokeling telah menjalani cara itu selama ratusan tahun.
Mereka mengenal apa yang disebut Kitab Turki. Nama itu sering disalahpahami sebagai kitab kuno yang tersimpan rapi di dalam peti. Padahal tidak ada lembaran kitab yang dapat dibuka. Kitab itu hidup dalam pitutur kaki, petuah para leluhur yang terus diucapkan, diingat, lalu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Barangkali di sinilah kita perlu memperluas pengertian tentang literasi. Selama ini literasi sering dipersempit menjadi kemampuan membaca dan menulis. Padahal, jauh sebelum masyarakat mengenal huruf, manusia telah mampu menyimpan pengetahuan melalui cerita, doa, tembang, mantra, dan berbagai upacara adat. Yang diwariskan bukan sekadar kata-kata, tetapi juga cara hidup.
Di Bonokeling, sastra tidak berhenti ketika sebuah kalimat selesai diucapkan. Ia berjalan bersama langkah kaki para peziarah menuju makam leluhur. Ia hadir dalam gotong royong membersihkan lingkungan, dalam doa-doa yang dilafalkan dengan lirih, juga dalam penghormatan kepada alam yang dipandang sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar sumber daya yang boleh dieksploitasi.
Karena itu, upacara Perlon bukan hanya ritual keagamaan atau tradisi tahunan. Ia adalah ruang belajar. Anak-anak menyaksikan orang tuanya bekerja bersama, mendengar doa yang sama, memegang nilai yang sama, lalu tanpa sadar mewarisi cara memandang kehidupan. Pendidikan berlangsung tanpa ruang kelas, tanpa papan tulis, bahkan tanpa buku pelajaran.
Yang menarik, komunitas ini tidak menolak perubahan. Ketika pandemi Covid-19 membatasi pertemuan masyarakat, mereka menyederhanakan pelaksanaan Perlon tanpa menghilangkan makna pokoknya. Sebagian anggota trah yang berada di luar daerah diminta tidak pulang, sementara prosesi adat dijalankan secara lebih sederhana. Tradisi ternyata tidak selalu berarti kaku. Ia dapat beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Bonokeling memperlihatkan satu pelajaran penting. Ketahanan sebuah kebudayaan bukan ditentukan oleh megahnya bangunan atau banyaknya dokumen yang dimiliki, melainkan oleh kesediaan masyarakat untuk terus menghidupi nilai-nilai yang diwariskan leluhurnya.
Di sinilah Bonokeling dan Ahmad Tohari, yang tampaknya berjalan di jalan berbeda, justru saling berdekatan. Yang satu menjaga kebudayaan melalui buku, yang lain merawatnya melalui ingatan. Yang satu menulis kehidupan agar tidak dilupakan, yang lain menjalani kehidupan agar tetap layak dikenang.
Barangkali Banyumas sedang mengajarkan kepada kita bahwa sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan perpustakaan yang penuh buku, tetapi juga masyarakat yang mampu menjaga nilai-nilai kebudayaannya dalam tindakan sehari-hari.
Pertemuan dua cara merawat ingatan inilah yang menjadikan Banyumas bukan sekadar sebuah wilayah administratif. Ia adalah ruang tempat sastra tertulis dan sastra lisan saling menguatkan, menghadirkan wajah kebudayaan Indonesia yang utuh.
Aris Munandar, adalah pelaku budaya dan petani