Dari Toko Kecil di Jatinegara, Ritam Meniti Jalan Menjadi Pengusaha Toko Obat

4 Min Read
Ritam, nama kampung yang sederhana, sukses (foto: istimewa) bisnis apotik

DMNETWORK — Tidak semua perjalanan usaha dimulai dengan modal besar atau pendidikan tinggi. Sebagian justru lahir dari ketekunan, kepercayaan, dan kesediaan untuk belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Jalan itulah yang ditempuh Ritam, perantau asal Banyumas yang kini berhasil membangun jaringan usaha toko obat setelah memulai karier dengan gaji hanya sekitar Rp200 ribu per bulan.

Lahir pada 17 Mei 1978, Ritam datang ke Jakarta pada pertengahan 1990-an dengan bekal pendidikan sekolah dasar. Seperti banyak perantau lainnya, ia berangkat dengan harapan sederhana: mencari pekerjaan dan memperbaiki kehidupan.

Kesempatan itu datang ketika ia bekerja di sebuah toko obat di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Pada tahun 1995, penghasilannya masih sangat terbatas. Namun, di tempat itulah ia memperoleh pelajaran yang kelak menjadi fondasi perjalanan usahanya.

- Iklan -
Ad imageAd image

Kejujuran dan kedisiplinannya membuat pemilik usaha memberikan kepercayaan lebih besar. Tidak hanya mengelola satu toko, Ritam juga dipercaya mengawasi beberapa unit usaha lain. Hari-harinya diisi dengan aktivitas mengatur stok, melayani pelanggan, hingga memastikan operasional toko berjalan baik.

Selama hampir lima tahun bekerja, ia bukan hanya mengumpulkan penghasilan, tetapi juga pengalaman. Sedikit demi sedikit, ia memahami cara menjalankan usaha, membaca kebutuhan pasar, dan membangun hubungan dengan pelanggan maupun pemasok.

Tahun 2002 menjadi titik penting dalam hidupnya. Berbekal pengalaman yang dimiliki, Ritam memberanikan diri membuka usaha sendiri di Pasar Jatinegara. Toko pertamanya berukuran sekitar 1,8 x 1,8 meter, ruang sederhana yang menjadi awal dari cita-cita kemandirian.

Perjalanan itu tidak berjalan mulus. Berbagai kendala harus dihadapi, mulai dari keterbatasan modal hingga musibah kebakaran yang sempat mengganggu aktivitas usaha. Dalam kondisi tertentu, mobil pribadinya bahkan digunakan sebagai tempat penyimpanan barang dagangan agar usaha tetap berjalan.

Sejumlah kali ia harus berpindah lokasi usaha dan tempat tinggal demi menyesuaikan kemampuan ekonomi. Namun, situasi tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia memilih bertahan dan terus menjalankan usaha yang dirintis dari bawah.

- Iklan -
Ad image

Perubahan mulai terasa pada 2011 ketika ia berhasil memiliki tempat usaha yang lebih representatif di kawasan Kompleks Pasar Negara, Jakarta Timur. Dari titik itu, bisnisnya berkembang lebih stabil dan mulai dikelola bersama anggota keluarga, termasuk adiknya.

Setelah usaha di Jakarta tumbuh, Ritam mulai membawa pengembangan bisnis ke kampung halamannya di Banyumas. Pada 2022, ia membuka cabang di wilayah Pekuncen-Jatilawang. Tiga tahun kemudian, cabang baru kembali dibuka di Purwokerto.

Langkah tersebut menandai fase baru perjalanan usaha yang sebelumnya hanya berawal dari sebuah kios kecil di sudut pasar.

Di luar pengembangan bisnis, Ritam juga mulai membangun aset keluarga. Setelah bertahun-tahun hidup berpindah-pindah kontrakan, ia kini memiliki rumah sendiri dan mengembangkan usaha properti sederhana berupa rumah kontrakan di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Beberapa unit hunian juga dipersiapkan di Purwokerto dan Jakarta sebagai investasi jangka panjang.

Meski telah mencapai kondisi ekonomi yang lebih mapan, Ritam tetap memandang pendidikan sebagai bagian penting dalam kehidupan. Di usia dewasa, ia mengikuti program pendidikan kesetaraan untuk melengkapi pendidikan formal yang dahulu tidak sempat ditempuh.

Baginya, belajar tidak mengenal batas usia. Pengalaman hidup memang menjadi guru utama, tetapi pendidikan tetap diperlukan untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan mengelola usaha.

Perjalanan Ritam menunjukkan bahwa mobilitas sosial tidak selalu berlangsung secara cepat. Ia tumbuh melalui proses panjang yang dibangun oleh kerja keras, kepercayaan, dan konsistensi selama puluhan tahun. Dari seorang karyawan bergaji ratusan ribu rupiah per bulan, ia perlahan membangun usaha yang kini hadir di beberapa daerah.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sering kali lahir bukan dari langkah besar yang spektakuler, melainkan dari ketekunan menjaga langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

Share This Article