Setelah Reshuffle, Mengapa Prabowo Memanggil Syahganda?

5 Min Read
Syahganda Nainggolan (foto: darmedianetwork)

Syahganda mengatakan Bakom akan menyiapkan tim khusus untuk mempelajari pengaruh algoritma dan AI terhadap penyampaian pesan pemerintah.

JAKARTA, DARMEDIANETWORK – Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil Kepala Bakom Fadli Tri Hartono ke kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026).

Pertemuan itu berlangsung hanya dua hari setelah Syahganda dilantik menggantikan Muhammad Qodari sebagai Kepala Bakom.

Menurut keterangan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, pertemuan tersebut membahas penguatan peran Bakom dalam membangun komunikasi pemerintah yang lebih dekat dengan masyarakat.

Prabowo, kata Teddy, menaruh perhatian khusus pada cara pemerintah menyampaikan program dan kebijakannya kepada publik.

- Iklan -
Ad imageAd image

Komunikasi pemerintah tidak cukup hanya menjelaskan program yang dikerjakan. Masyarakat juga perlu memahami arah dan pemikiran di balik setiap kebijakan.

Karena itu, Presiden meminta agar komunikasi pemerintah menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami masyarakat.

“Presiden juga mengingatkan agar Badan Komunikasi Pemerintah tidak hanya menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga mendengarkan masukan, keluhan, dan kritik masyarakat untuk kemudian diteruskan kepada kementerian dan lembaga terkait, termasuk kepada Presiden,” kata Teddy dalam keterangan tertulisnya.

Dengan arahan tersebut, Bakom diharapkan menjadi jembatan komunikasi dua arah antara pemerintah, media, dan masyarakat.

Syahganda dan tantangan AI

Pemanggilan Syahganda menjadi menarik karena sejak dilantik pada Jumat (2/10/2026), ia sudah menempatkan persoalan teknologi digital, algoritma, dan kecerdasan buatan atau AI sebagai salah satu tantangan utama komunikasi pemerintah.

- Iklan -
Ad image

Syahganda mengatakan Bakom akan menyiapkan tim khusus untuk mempelajari pengaruh algoritma dan AI terhadap penyampaian pesan pemerintah.

Menurut dia, perkembangan teknologi dapat membuat pesan atau pemikiran Presiden mengalami distorsi ketika diterima masyarakat.

“Tantangan terbesar pada komunikasi itu adalah soal algoritma, soal AI dan lain-lain. Jadi kita akan masuk juga ke sana,” ujar Syahganda seusai dilantik di Istana Negara, Jumat.

Ia juga mengatakan strategi komunikasi pemerintah akan dikombinasikan dengan perkembangan AI.

Menurut Syahganda, salah satu persoalan komunikasi pemerintahan adalah bagaimana membuat masyarakat memahami pemikiran dan landasan kebijakan Presiden.

“Karena yang paling susah ditangkap oleh rakyat itu adalah pikiran Presiden,” kata Syahganda.

Dari Qodari ke Syahganda

Syahganda dilantik sebagai Kepala Bakom melalui Keputusan Presiden Nomor 106/P Tahun 2026. Ia menggantikan Muhammad Qodari.

Pada saat yang sama, Qodari bergeser menjadi Sekretaris sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Pergantian tersebut membuat posisi Syahganda langsung menjadi sorotan, terutama karena latar belakangnya sebagai aktivis dan figur yang lama berada di ruang diskusi politik serta intelektual.

Namun, sejauh ini tidak ada keterangan resmi dari Istana yang menyebut bahwa pemanggilan Syahganda ke Hambalang berkaitan dengan alasan politik tertentu di luar tugasnya sebagai Kepala Bakom.

Keterangan resmi pemerintah justru menekankan aspek komunikasi publik: bagaimana menjelaskan kebijakan, menyampaikan manfaat program, mendengar kritik, dan membangun komunikasi yang lebih terbuka.

Bukan sekadar menyampaikan pesan

Jika melihat rangkaian peristiwa sejak pelantikan hingga pemanggilan di Hambalang, ada satu isu yang menjadi perhatian: perubahan lingkungan komunikasi pemerintah di tengah perkembangan media digital dan AI.

Pada satu sisi, pemerintah membutuhkan kemampuan menjelaskan kebijakan kepada masyarakat. Di sisi lain, informasi publik kini bergerak melalui media sosial, mesin rekomendasi, algoritma, dan konten yang diproduksi maupun dimodifikasi menggunakan AI.

Dalam situasi tersebut, persoalannya bukan hanya bagaimana pemerintah berbicara kepada masyarakat, tetapi juga bagaimana pemerintah mengetahui apa yang sedang dibicarakan masyarakat.

Arahan Prabowo kepada Bakom menunjukkan keinginan agar lembaga tersebut menjalankan kedua fungsi itu: menyampaikan informasi pemerintah sekaligus mendengar aspirasi, kritik, dan keluhan masyarakat.

Adapun apakah pemanggilan Syahganda memiliki agenda politik yang lebih luas, belum ada bukti atau keterangan resmi yang dapat memastikan hal tersebut.

Yang sudah dapat dipastikan adalah waktunya sangat dekat dengan pergantian pimpinan Bakom.

Syahganda baru dua hari menjabat ketika dipanggil langsung Presiden ke Hambalang.

Dan pesan yang dibawa dari pertemuan itu cukup jelas: komunikasi pemerintah diminta lebih sederhana, terbuka, dialogis, sekaligus mampu menghadapi perubahan lanskap informasi yang semakin dipengaruhi algoritma dan AI.

Dalam konteks itulah, pertanyaan “mengapa Prabowo memanggil Syahganda?” mungkin tidak cukup dijawab dengan siapa Syahganda.

Pertanyaan yang lebih besar adalah: komunikasi macam apa yang sedang ingin dibangun pemerintah Prabowo di tengah zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada penjelasan resmi? (redaksi)

Share This Article
error: Content is protected !!