Di sinilah persoalan membaca bertemu dengan budaya pencitraan di media sosial
JAKARTA, DARMEDIANETWORK – Membaca buku selama ini dipahami sebagai jalan untuk memperoleh pengetahuan. Namun, sebuah penawaran jasa membaca buku di media sosial memunculkan pertanyaan lain: bagaimana jika aktivitas membaca dapat diwakilkan demi membangun citra sebagai pencinta buku?
CNA Indonesia pada 8 Oktober 2026 dan tvOne pada 9 Oktober 2026 menyoroti penawaran jasa membaca buku melalui akun Threads @inilindri. Layanan tersebut mencakup membaca buku, memberikan penanda halaman, membuat highlight, menempelkan sticky notes, hingga menyiapkan foto untuk kebutuhan konten media sosial.
Dalam pemberitaan tersebut, tarif yang dicantumkan mencapai Rp1,6 juta, bergantung pada jenis dan ketebalan buku. Rentang buku yang ditawarkan untuk dibaca berkisar 100 hingga 800 halaman, termasuk buku fiksi dan nonfiksi.
Namun, angka itu memerlukan konteks. CNA Indonesia melaporkan bahwa pemilik akun kemudian menjelaskan tarif yang dicantumkan bukan harga sebenarnya. Ia menyebut unggahan tersebut sebagai upaya menarik klien.
Dengan demikian, tarif Rp1,6 juta belum dapat diperlakukan sebagai bukti transaksi yang benar-benar terjadi. Belum ada data yang cukup untuk memastikan berapa pelanggan yang menggunakan layanan tersebut, berapa pendapatan yang diperoleh, atau seberapa luas pasar jasa semacam ini.
Membaca buku untuk membangun citra
Hal yang menarik bukan semata-mata besarnya tarif, melainkan tujuan layanan yang ditawarkan. Jasa tersebut dipromosikan untuk membantu seseorang menampilkan kesan sebagai bookworm, sebutan bagi orang yang gemar membaca buku.
Penanda halaman, catatan, dan highlight dapat menjadi bukti visual bahwa sebuah buku telah dibaca. Akan tetapi, tanda-tanda itu tidak otomatis menunjukkan bahwa pemilik buku memahami isi bacaan.
Di sinilah persoalan membaca bertemu dengan budaya pencitraan di media sosial. Buku tidak hanya berfungsi sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas yang ingin ditampilkan kepada orang lain.
Meski demikian, motif setiap pengguna jasa tidak dapat disamaratakan. Tanpa keterangan langsung dari pelanggan dan bukti penggunaan layanan, belum dapat dipastikan apakah jasa itu digunakan untuk membangun citra, membantu pekerjaan, atau memenuhi kebutuhan lain.
Apa yang sebenarnya dibeli?
Jasa membaca buku perlu dibedakan dari layanan profesional yang membantu seseorang memahami bacaan. Ringkasan buku, ulasan, diskusi, dan catatan belajar dapat menjadi sarana untuk memperluas akses terhadap pengetahuan.
Persoalannya muncul ketika hasil pekerjaan orang lain digunakan untuk membangun kesan bahwa seseorang telah membaca dan memahami buku itu sendiri.
Membaca bukan sekadar menuntaskan halaman atau meninggalkan jejak stabilo. Aktivitas tersebut melibatkan proses memahami gagasan, menguji argumen, dan menghubungkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
Catatan yang dibuat orang lain mungkin membantu pembaca mengenali pokok bahasan. Namun, catatan itu tidak dapat dijadikan bukti bahwa pemilik buku telah mengalami proses intelektual yang sama.
Perbedaan tersebut penting, terutama ketika dokumentasi membaca digunakan untuk membangun reputasi pribadi.
Fenomena viral belum membuktikan krisis literasi
Penawaran jasa joki baca buku dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan antara literasi dan citra diri. Namun, fenomena yang diberitakan dua media tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sedang menurun atau bahwa jasa semacam ini telah menjadi tren luas.
Kesimpulan semacam itu membutuhkan data yang lebih kuat, antara lain jumlah penyedia jasa, transaksi yang benar-benar terjadi, profil pengguna, serta alasan mereka menggunakan layanan tersebut.
Pemeriksaan lebih lanjut juga perlu menjawab apakah jasa ini sebatas eksperimen pemasaran di media sosial atau telah berkembang menjadi usaha dengan permintaan yang nyata.
Tanpa data tersebut, angka Rp1,6 juta lebih tepat diperlakukan sebagai bagian dari penawaran yang viral, bukan ukuran nilai pasar jasa membaca buku.
Pada akhirnya, fenomena ini menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar daripada soal harga. Ketika aktivitas membaca dapat diwakilkan dan hasilnya dipamerkan, batas antara memperoleh pengetahuan dan menampilkan diri sebagai orang berpengetahuan menjadi semakin penting untuk diperiksa.
Buku mungkin dapat dibaca oleh orang lain. Catatan pun dapat dibuatkan. Namun, pemahaman tetap membutuhkan proses yang tidak bisa dibuktikan hanya melalui foto, penanda halaman, atau deretan sticky notes. (Rist/darmedianetwork)