Ketika percakapan tentang bapaknya mulai kehilangan sebagian penonton, anak itu tiba-tiba menemukan dirinya berdiri di depan pintu yang sama.
Ijazah.
DARMEDIANETWORK – Negeri itu memang lucu. Bukan lucu karena pelawaknya banyak, melainkan karena sesuatu yang semestinya selesai di ruang administrasi bisa bertahan begitu lama di ruang ingatan. Di negeri lain, orang mengingat harga beras, perang, atau kemenangan tim sepak bola. Di negeri ini, orang bisa mengingat selembar ijazah lebih lama daripada mengingat harga beras yang naik tiga kali dalam sebulan.
Satu hari ijazah. Dua hari ijazah. Seminggu ijazah. Sebulan ijazah. Setahun ijazah. Bahkan dua periode pemerintahan pun rupanya belum cukup untuk membuat republik ini lulus dari urusan ijazah.
Bapak itu pernah menjadi orang biasa. Setidaknya, begitulah kesan yang mula-mula ditangkap orang. Ia berjalan, berbicara, tertawa, lalu pelan-pelan masuk ke dalam rumah besar bernama kekuasaan. Orang-orang menghafal namanya. Wajahnya masuk televisi, fotonya terpajang di dinding kantor, dan kalimat-kalimatnya dikutip dalam pidato. Ia menjadi bahan percakapan di warung kopi, di ruang rapat, di pasar, bahkan di tempat orang sedang menunggu giliran berobat.
Kemudian datanglah ijazah.
Selembar kertas itu mendadak mempunyai kehidupan sendiri. Ia dibicarakan oleh mereka yang pernah melihatnya, mereka yang mengaku belum pernah melihatnya, mereka yang merasa perlu melihatnya, dan mereka yang sebenarnya tidak pernah berniat melihatnya tetapi tiba-tiba merasa paling berkepentingan.
Ijazah itu seperti memiliki nomor telepon seluruh penduduk republik. Ia bisa menghubungi siapa saja, kapan saja, tanpa pulsa.
Orang-orang yang tadinya tidak mengenal nama sekolah tempat bapak itu belajar mendadak menjadi ahli pendidikan. Mereka menghafal singkatan lembaga, membandingkan tahun, memperdebatkan dokumen, dan menelusuri lorong-lorong masa lalu. Ada yang membawa kaca pembesar. Ada yang membawa keyakinan. Ada pula yang datang hanya membawa kemarahan, sebab kemarahan tidak memerlukan dokumen pendukung untuk bisa dibagikan.
Bapak itu terus hidup dalam percakapan, bahkan ketika orang-orang sudah kehabisan bahan untuk membicarakan hal lain tentang dirinya.
Republik rupanya mempunyai ingatan yang unik. Ia bisa melupakan janji, tetapi sukar melupakan kertas.
Lalu waktu bergerak. Anak bapak itu tumbuh menjadi tokoh. Ia memperoleh tempat di panggung yang sama, meskipun dengan cerita yang berbeda. Namanya naik, wajahnya dikenal, dan langkah politiknya menjadi bahan hitung-hitungan. Ada yang menyebutnya masa depan. Ada yang menyebutnya kelanjutan. Ada pula yang diam-diam menghitung berapa lama sebuah nama bisa bertahan di kepala rakyat sebelum nama lain datang menggantikannya.
Ketika percakapan tentang bapaknya mulai kehilangan sebagian penonton, anak itu tiba-tiba menemukan dirinya berdiri di depan pintu yang sama.
Ijazah.
Kata itu kembali beredar. Mula-mula di sudut-sudut percakapan, kemudian masuk ke ruang keluarga, ke meja makan, ke grup WhatsApp, ke studio televisi, dan ke mimbar para tokoh. Orang-orang yang kemarin membicarakan harga cabai hari ini membicarakan pendidikan seorang anak pejabat. Orang yang biasanya hanya mengangguk ketika mendengar pidato politik kini mempunyai pendapat yang disampaikan dengan penuh keyakinan.
Nama anak itu pun kembali bertengger di kepala republik.
Partai-partai ikut bicara. Tokoh-tokoh mengeluarkan pernyataan. Pengamat menyusun analisis. Para pendukung memasang badan. Para pengkritik memasang spanduk. Mereka semua seolah sepakat pada satu hal: anak itu layak dibicarakan.
Mereka hanya berbeda dalam cara membicarakannya.
Di sebuah warung, seorang tukang becak menghentikan obrolan tentang penumpang yang semakin sedikit.
“Bagaimana menurutmu soal ijazah itu?” tanya kawannya.
Tukang becak tersebut menggaruk kepala. Ia tidak tahu nama lengkap sekolah yang sedang diperdebatkan. Ia juga tidak hafal tahun kelulusannya. Tetapi ia tahu siapa anak itu, siapa bapaknya, dan mengapa nama mereka selalu muncul di televisi.
“Entahlah,” katanya. “Kalau memang ada masalah, ya dibuktikan. Kalau tidak ada, ya dijelaskan. Kita ini cuma ingin tahu mana yang benar.”
Kawannya mengangguk. Percakapan berakhir. Mereka kembali menghitung penghasilan hari itu, sebab beras di rumah tidak bisa dibeli dengan perdebatan.
Namun di tempat lain, percakapan yang sama belum selesai. Ia tumbuh menjadi puluhan pendapat, ratusan potongan video, ribuan komentar, lalu jutaan kemungkinan tafsir. Ada yang mempersoalkan dokumen. Ada yang mempersoalkan orang yang mempersoalkan dokumen. Ada pula yang mempersoalkan mengapa orang lain tidak ikut mempersoalkannya.
Begitulah republik bekerja. Sebuah persoalan tidak harus selesai untuk bisa terus menghasilkan percakapan. Kadang-kadang, justru karena belum selesai, ia menjadi lebih berguna bagi banyak orang.
Di istana, mungkin ada berkas yang ditandatangani. Di gedung partai, mungkin ada strategi yang disusun. Di ruang redaksi, mungkin ada judul yang dipilih setelah rapat panjang. Di layar telepon, ada orang-orang yang merasa ikut menentukan masa depan bangsa hanya dengan menekan tombol kirim.
Sementara itu, seekor semut merayap di dekat kaki meja tempat dua orang sedang berdebat sengit.
Semut itu tidak tahu siapa bapaknya. Ia tidak tahu siapa anaknya. Ia tidak mengerti apa itu wakil presiden, partai politik, apalagi polemik ijazah. Ia hanya menemukan remah gula dan membawanya pulang, mungkin kepada anak-anaknya yang menunggu di sarang.
Tetapi andaikata semut itu bisa berbicara, barangkali ia akan bertanya mengapa manusia begitu sibuk membicarakan selembar kertas, sementara banyak hal lain di sekitarnya dibiarkan berantakan.
Mengapa sekolah-sekolah yang bangunannya hampir roboh tidak memperoleh perhatian selama polemik itu berlangsung? Mengapa nasib anak-anak yang kesulitan membayar biaya pendidikan tidak menjadi percakapan sepanjang malam? Mengapa orang-orang yang setiap hari bekerja keras tetap harus menghitung uang receh untuk membeli makan, sementara negeri ini begitu murah hati menyediakan ruang bagi perdebatan yang tak kunjung selesai?
Tentu saja semut tidak bertanya demikian. Ia bukan wartawan, bukan pengamat, bukan pula anggota partai. Ia tidak memiliki akun media sosial. Ia tidak membutuhkan panggung.
Ia hanya bekerja.
Dan mungkin itulah sebabnya tak seorang pun mengundangnya ke studio televisi.
Pada akhirnya, bapak dan anak itu telah memperoleh sesuatu yang jarang dimiliki manusia: tempat yang panjang di dalam ingatan republik. Nama mereka tidak sekadar muncul, tetapi berulang-ulang dipanggil oleh percakapan yang tak pernah benar-benar tidur.
Orang bisa menyukai mereka atau membenci mereka. Orang bisa membela atau menuduh. Tetapi selama nama mereka masih menjadi bahan pembicaraan, keduanya tetap hadir di dalam kehidupan bangsa, bahkan ketika yang dibicarakan bukan lagi kebijakan, prestasi, atau kegagalan, melainkan selembar ijazah.
Ada ironi yang sukar diabaikan di sini.
Bapak dan anak itu mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi keduanya dipertemukan oleh sebuah benda yang sama. Kertas yang seharusnya menjadi catatan perjalanan pendidikan justru menjadi pintu masuk ke perdebatan tentang kekuasaan, kepercayaan, dan harga diri sebuah republik.
Barangkali kelak, bertahun-tahun dari sekarang, seseorang akan membuka buku sejarah dan menemukan nama mereka. Ia akan membaca tentang jabatan, pemilihan, kemenangan, kontroversi, dan polemik yang menyertainya.
Lalu ia akan bertanya kepada gurunya, mengapa dua orang yang pernah begitu berkuasa itu begitu lama dibicarakan karena ijazah.
Gurunya mungkin akan terdiam sebentar sebelum menjawab.
“Karena di negeri itu, Nak, orang bisa berkuasa selama bertahun-tahun, tetapi kepercayaan rakyat tidak selalu ikut naik pangkat.”
Anak itu mungkin belum mengerti. Ia akan kembali membaca buku sejarahnya. Di luar kelas, bel berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar, membawa tas, buku, dan cita-cita yang belum sempat diperdebatkan siapa pun.
Republik terus berjalan.
Di pasar, harga cabai berubah. Di sawah, petani menunggu hujan. Di rumah sakit, keluarga menunggu kabar. Di sekolah, anak-anak belajar mengeja masa depan.
Dan di suatu tempat, seseorang kembali mengunggah sebuah tulisan tentang ijazah.
Nama bapak itu muncul lagi. Nama anaknya menyusul.
Percakapan dimulai dari awal.
Seolah-olah republik ini belum pernah membicarakannya kemarin.
Bahkan ketika sejarah itu sendiri masih menunggu untuk dipastikan.
Semut tadi sudah lama pulang ke sarangnya. Ia membawa remah gula, bukan ijazah.
Mungkin, di antara semua makhluk yang hidup di republik itu, hanya semut yang tahu bahwa sesuatu yang kecil bisa dibawa pulang tanpa harus dijadikan perkara nasional.
Dan hanya manusia yang mampu membuat selembar kertas menjadi begitu besar, sampai-sampai seluruh negeri merasa harus ikut memikulnya.
Aris Munandar, seorang petani tinggal di Magelang