Mengelola media online hari ini seperti menyanyikan penggalan lagu Queen: Easy come, easy go. Datang dengan semangat, pergi ketika berhadapan dengan kenyataan.
DARMEDIANETWORK| Ada yang menarik dari dunia media online hari ini. Mendirikan media berita terasa semakin mudah. Modalnya tidak harus besar. Beli domain, sewa hosting, pilih template, pasang logo, kemudian rekrut beberapa orang untuk mengisi posisi direktur, pemimpin redaksi, redaktur, dan wartawan. Dalam hitungan hari, sebuah perusahaan media bisa lahir.
Bahkan, sebelum berita pertama diterbitkan, kartu nama dengan jabatan mentereng sudah bisa dicetak.
Tetapi, mengelola media ternyata tidak sesederhana mendirikan situs berita.
Di sinilah penggalan lagu Queen, Easy come, easy go, terasa relevan. Media online bermunculan dengan cepat, tetapi tidak sedikit yang kemudian menghilang dengan kecepatan yang hampir sama. Ada yang sempat ramai selama beberapa bulan, ada yang bertahan setahun, dan ada pula yang hanya hidup ketika pemiliknya masih punya semangat dan uang untuk membiayai operasional.
Setelah itu, situsnya masih bisa dibuka, tetapi beritanya tidak lagi diperbarui. Media sosialnya terbengkalai. Wartawannya entah ke mana. Perusahaan persnya tinggal nama.
Fenomena ini bukan semata-mata persoalan sulitnya mencari uang. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni cara sebagian orang memahami bisnis media.
Media bukan sekadar memiliki website.
Kesalahan pertama sebagian pelaku media online adalah menganggap bahwa memiliki portal berita sama dengan memiliki perusahaan pers. Padahal, website hanyalah salah satu alat produksi dan distribusi informasi.
Pers membutuhkan manusia, kompetensi, jaringan, biaya operasional, sistem kerja, dan yang paling penting, kepercayaan publik.
Ada biaya untuk membayar wartawan, editor, fotografer, internet, transportasi liputan, pengelolaan teknologi, hingga kebutuhan administrasi perusahaan. Semua itu tidak bisa dibayar menggunakan semangat jurnalistik atau kebanggaan memiliki jabatan di dalam struktur redaksi.
Anehnya, sebagian orang justru memulai bisnis media dari urutan yang terbalik. Mereka lebih dahulu membangun struktur organisasi, memasang jabatan, membuat logo, dan mengumumkan kelahiran media. Sementara itu, pertanyaan paling penting justru belum dijawab: dari mana biaya operasional akan diperoleh?
Media akhirnya berjalan dengan prinsip gali lubang tutup lubang. Hari ini ada pemasukan dari advertorial, besok berharap ada kerja sama pemerintah daerah, lusa menunggu pesanan publikasi dari perusahaan atau lembaga tertentu.
Ketika pesanan datang, redaksi hidup. Ketika pesanan berhenti, seluruh aktivitas ikut berhenti.
Inilah media yang hidup berdasarkan pesanan, bukan berdasarkan perencanaan bisnis.
Menjadi pemilik media bukan berarti otomatis menjadi pengusaha pers.
Persoalan berikutnya adalah mentalitas sebagian pemilik media yang ingin mendapatkan keuntungan, tetapi tidak siap menanggung risiko usaha.
Mereka ingin memiliki media yang dikenal, ingin disebut sebagai pimpinan perusahaan pers, ingin diundang dalam berbagai kegiatan, bahkan ingin mendapatkan akses kepada pejabat dan pemegang kebijakan.
Namun, ketika harus membicarakan kesejahteraan wartawan, biaya liputan, peningkatan kualitas redaksi, dan investasi teknologi, tiba-tiba semuanya menjadi urusan yang sulit.
Wartawan diminta produktif, tetapi fasilitas liputan tidak disediakan. Redaksi dituntut menghasilkan banyak berita, tetapi tidak dibekali anggaran yang memadai. Media diminta tumbuh, tetapi perusahaan tidak memiliki strategi untuk memperoleh pendapatan secara berkelanjutan.
Dalam situasi seperti ini, jangan heran apabila kualitas jurnalistik ikut menjadi korban.
Berita diproduksi sekadar untuk memenuhi jumlah tayangan. Judul dibuat sensasional. Informasi dari media sosial dipindahkan begitu saja menjadi berita. Rilis lembaga disalin tanpa pemeriksaan memadai. Bahkan, tidak jarang satu peristiwa yang sama diolah menjadi beberapa berita hanya untuk memenuhi target publikasi.
Media akhirnya lebih sibuk mengejar jumlah daripada membangun kualitas.
Algoritma bukan penyelamat perusahaan pers.
Ada pula pelaku media yang terlalu menggantungkan masa depan perusahaannya kepada Google, Facebook, Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya.
Mereka berharap trafik datang dari mesin pencari, berharap berita viral, berharap mendapatkan pembagian pendapatan iklan, dan berharap algoritma terus berpihak kepada mereka.
Padahal, algoritma tidak pernah berjanji akan membuat perusahaan pers menjadi kaya.
Hari ini sebuah berita bisa mendapatkan ribuan pembaca. Besok, perubahan algoritma membuat trafik turun drastis. Hari ini media sosial menjadi sumber pengunjung, besok platform mengubah kebijakan distribusinya.
Media yang tidak memiliki pembaca loyal, identitas editorial, dan sumber pendapatan sendiri akan sangat rentan.
Ketergantungan kepada platform sama saja dengan membangun rumah di atas tanah yang sewaktu-waktu bisa berubah kepemilikannya.
Di era kecerdasan buatan, tantangannya bahkan semakin besar. Produksi konten semakin murah, semakin cepat, dan semakin mudah. Siapa pun bisa membuat berita dalam hitungan menit.
Lalu, apa yang membedakan sebuah perusahaan pers profesional dengan sekadar akun yang rajin mengunggah informasi?
Jawabannya adalah kualitas verifikasi, kedalaman liputan, independensi, tanggung jawab editorial, dan kepercayaan pembaca.
Itulah aset yang tidak bisa dibangun hanya dengan membeli domain.
Jangan mendirikan media hanya untuk memiliki panggung.
Kritik ini tentu tidak ditujukan kepada semua media online. Banyak perusahaan pers yang benar-benar bekerja keras mempertahankan redaksi, membangun pasar pembaca, dan mencari model bisnis yang sehat. Bahkan, tidak sedikit media lokal yang bertahan dengan sumber daya terbatas, tetapi tetap berusaha menjaga integritas jurnalistiknya.
Justru mereka yang patut dihormati.
Yang perlu dikritik adalah kecenderungan menjadikan media sebagai panggung pribadi. Media didirikan bukan karena ada gagasan jurnalistik, bukan karena ada kebutuhan informasi masyarakat, melainkan karena ingin memiliki kendaraan untuk membangun popularitas, memperluas jaringan, atau mendapatkan akses kekuasaan.
Ketika tujuan itu tidak tercapai, media kehilangan alasan untuk terus hidup.
Padahal, media lokal memiliki peran yang tidak kecil. Mereka bisa mengangkat persoalan petani, pasar tradisional, masyarakat adat, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga kebijakan pemerintah yang tidak terjangkau oleh media nasional.
Tetapi, semua itu membutuhkan kesungguhan.
Pemilik media harus memahami bahwa perusahaan pers bukan proyek musiman. Redaksi tidak bisa hidup hanya dari sisa anggaran pemilik. Wartawan bukan tenaga sukarela yang setiap saat bisa diminta bekerja tanpa kepastian kesejahteraan.
Bisnis media memang tidak selalu menjanjikan keuntungan besar. Tetapi, bukan berarti pengelolaannya boleh dilakukan tanpa hitungan ekonomi.
Justru karena media memiliki tanggung jawab publik, keberlanjutan bisnisnya harus dipikirkan secara serius.
Pada akhirnya, barangkali kita perlu mengubah cara pandang terhadap dunia media online.
Jangan terlalu bangga karena berhasil mendirikan portal berita. Jangan terlalu cepat memasang jabatan direktur atau pemimpin redaksi. Jangan pula merasa sudah menjadi pengusaha pers hanya karena memiliki alamat website sendiri.
Ukuran keberhasilan media bukan berapa banyak portal yang berhasil diluncurkan, berapa banyak kartu pers yang dibagikan, atau berapa banyak pejabat yang mengenal pemiliknya.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa lama media itu mampu bertahan, seberapa besar kepercayaan pembacanya, seberapa kuat independensi redaksinya, dan apakah orang-orang yang bekerja di dalamnya memperoleh kehidupan yang layak.
Sebab, mendirikan media mungkin hanya membutuhkan uang untuk membeli domain dan hosting. Tetapi membangun perusahaan pers membutuhkan visi, keberanian, kompetensi, dan kesanggupan membiayai idealisme.
Kalau hanya ingin datang, membuat nama, menikmati jabatan, lalu pergi ketika uang habis, mungkin benar: Easy come, easy go.
Tetapi, pers bukan lagu yang selesai ketika musik berhenti.
Pers memiliki tanggung jawab yang tidak ikut berhenti ketika pemiliknya kehilangan semangat.
Pemimpin Redaksi: Aris Munandar