Dalam situasi hipotetis tersebut, nama Dedi dan Gibran dapat kembali dibicarakan dalam penyusunan pasangan calon.
JAKARTA, DARMEDIANETWORK – Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mulai menjadi bagian dari pembicaraan politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Di tengah meningkatnya elektabilitas Dedi dalam sejumlah survei, muncul spekulasi mengenai kemungkinan keduanya berpasangan apabila konfigurasi politik nasional berubah, termasuk jika hubungan politik Prabowo Subianto dan Gibran tidak berlanjut hingga pemilihan mendatang.
Namun, hingga Kamis (22/10/2026), belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi rencana pencalonan Dedi-Gibran. Gagasan tersebut masih merupakan skenario politik yang perlu diuji melalui perkembangan dukungan partai, komunikasi elite, dan pernyataan kedua tokoh.
Hasil survei terbaru memberikan sejumlah petunjuk mengenai posisi Dedi dan Gibran dalam bursa calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres).
Dedi unggul di SMRC, Prabowo masih memimpin di PPI
Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dalam survei yang dilaksanakan pada 1-10 Oktober 2026, mencatat elektabilitas Dedi Mulyadi sebesar 35,5 persen dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama.
Dedi berada di atas Anies Baswedan yang memperoleh 10,3 persen, Presiden Prabowo Subianto 9,8 persen, serta Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen.
Survei tersebut melibatkan 1.213 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara telepon terhadap responden yang memiliki ponsel dan wawancara tatap muka terhadap responden tanpa ponsel. Margin of error diperkirakan sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Meski demikian, SMRC mengingatkan bahwa tingginya elektabilitas Dedi tidak otomatis membuatnya maju sebagai capres. Dedi merupakan kader Partai Gerindra, sehingga pencalonannya perlu dilihat dalam konteks keputusan partai dan kemungkinan Prabowo kembali maju pada 2029.
Temuan tersebut dipublikasikan SMRC pada Oktober 2026 dan diberitakan Katadata melalui Databoks.
Berbeda dengan SMRC, survei Parameter Politik Indonesia (PPI) periode 26 September-6 Oktober 2026 menempatkan Prabowo di urutan pertama dalam simulasi terbuka capres dengan 31,6 persen. Dedi memperoleh 11,4 persen, Anies 10,1 persen, sedangkan Gibran 6,9 persen.
Survei PPI melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi dengan metode multistage random sampling, tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error sekitar 2,83 persen.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa angka elektabilitas bergantung pada metode, waktu pengambilan data, dan bentuk pertanyaan yang diajukan kepada responden. Hasilnya tidak dapat dibaca sebagai satu ukuran tunggal untuk memastikan siapa yang akan menjadi capres pada 2029.
Dedi masuk bursa cawapres, ungguli Gibran dalam survei PPI
Petunjuk lain datang dari simulasi cawapres yang dilakukan PPI.
Dalam survei yang sama, Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas 21 persen, sedangkan Gibran Rakabuming Raka mendapatkan 14,2 persen. Berikutnya, Agus Harimurti Yudhoyono meraih 7,1 persen dan Anies Baswedan 7 persen.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa nama Dedi juga dipertimbangkan responden ketika pertanyaan diarahkan pada posisi wakil presiden, bukan hanya presiden.
Sementara itu, Gibran memiliki tingkat pengenalan publik sebesar 93,8 persen dalam survei PPI. Angka tersebut berada di bawah Prabowo yang mencapai 96,8 persen.
Data ini dapat menjadi bahan untuk membahas kemungkinan konfigurasi pasangan capres-cawapres. Namun, elektabilitas dalam simulasi cawapres tidak berarti responden secara otomatis menghendaki Dedi berpasangan dengan Gibran. Survei tersebut mengukur pilihan terhadap figur, bukan persetujuan terhadap pasangan tertentu.
Jika Prabowo-Gibran tidak berlanjut, bagaimana peluang duet Dedi-Gibran?
Spekulasi mengenai pasangan Dedi Mulyadi-Gibran Rakabuming Raka dapat dibaca melalui satu skenario: bagaimana jika Prabowo tidak kembali maju pada Pilpres 2029 atau konfigurasi politik yang menopang pasangan Prabowo-Gibran pada 2024 berubah?
Dalam situasi hipotetis tersebut, nama Dedi dan Gibran dapat kembali dibicarakan dalam penyusunan pasangan calon. Dedi memiliki dukungan elektoral yang menonjol dalam sejumlah simulasi capres, sedangkan Gibran mempunyai pengalaman sebagai wakil presiden dan tingkat pengenalan publik yang tinggi.
Akan tetapi, skenario tersebut bukan bukti bahwa hubungan politik Prabowo dan Gibran sedang menuju perpecahan. Gerindra sebelumnya justru menyatakan bahwa hubungan Prabowo dan Gibran saling melengkapi dalam pemerintahan.
Karena itu, kemungkinan duet Dedi-Gibran harus ditempatkan sebagai hipotesis mengenai perubahan konfigurasi politik, bukan sebagai informasi tentang kesepakatan yang sudah berlangsung.
Selain itu, apabila Prabowo kembali dicalonkan oleh Gerindra, posisi Dedi sebagai kader partai tersebut menjadi faktor penting. Keputusan pencalonan tidak hanya ditentukan oleh hasil survei, tetapi juga oleh strategi partai, proses koalisi, dan keputusan politik para tokoh yang bersangkutan.
Dedi belum memikirkan Pilpres 2029
Di tengah berkembangnya spekulasi mengenai duet Dedi-Gibran, Dedi sebelumnya menyatakan belum memikirkan Pilpres 2029 dan masih berfokus menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat.
Dalam pemberitaan detikJabar pada 22 September 2026, Dedi menegaskan tidak ada arah politik menuju duet dengan Gibran.
Pernyataan itu menjadi batas penting dalam membaca hasil survei. Tingginya dukungan responden terhadap seorang tokoh tidak selalu sejalan dengan keinginan tokoh tersebut untuk maju dalam kontestasi nasional.
Gibran pun tidak dapat dianggap telah menyetujui skenario tersebut tanpa pernyataan atau bukti yang mengonfirmasi sikapnya.
Dengan demikian, belum terdapat dasar yang cukup untuk menyebut Dedi-Gibran sebagai pasangan yang telah disiapkan untuk Pilpres 2029.
Survei bukan penentu pasangan calon
Perkembangan survei memperlihatkan bahwa persaingan menuju Pilpres 2029 masih terbuka terhadap perubahan. Dedi Mulyadi memiliki angka yang menonjol dalam sejumlah simulasi capres dan cawapres, sedangkan Prabowo masih memimpin dalam simulasi capres PPI.
Kemungkinan Dedi berpasangan dengan Gibran dapat menjadi salah satu skenario yang layak dipantau apabila peta koalisi berubah. Namun, untuk menilai perkembangan tersebut secara lebih pasti, publik perlu memperhatikan setidaknya tiga hal: sikap resmi Dedi dan Gibran, keputusan pencalonan Partai Gerindra, serta perkembangan komunikasi dan dukungan partai politik lainnya.
Pada akhirnya, survei mengukur preferensi publik pada waktu tertentu, bukan menetapkan pasangan calon. Peta Pilpres 2029 masih dapat berubah seiring perkembangan kinerja pemerintahan, dinamika partai, dan keputusan politik menjelang pendaftaran calon. Redaksi
Sumber: SMRC melalui Katadata/Databoks, 19 Oktober 2026; Parameter Politik Indonesia melalui ANTARA dan detikNews, 18 Oktober 2026; detikJabar, 22 dan 24 September 2026; ANTARA, 22 Juli 2026.
Editor: Aris Munandar